Risiko membangun tanpa survei lahan
- Fondasi tidak sesuai. Tanah yang ternyata lunak atau bekas urukan memaksa perubahan fondasi di tengah jalan.
- Banjir dan genangan. Lahan yang lebih rendah dari jalan atau lingkungan sekitar menampung air setiap musim hujan.
- Utilitas tidak cukup. Daya listrik atau sumber air yang kurang baru ketahuan saat mesin siap dipasang.
- Akses tertutup. Jalan masuk yang terlalu sempit atau menanjak membuat truk material dan truk barang tidak bisa masuk.
- Masalah legal. Batas lahan yang tidak sesuai sertifikat atau peruntukan yang tidak cocok menghambat izin bangunan.
Apa yang diperiksa saat survei
- Peninjauan awal. Melihat lahan dan lingkungan sekitarnya: tetangga, jalan, saluran air, dan bekas penggunaan lahan.
- Pengukuran dan pemetaan. Batas lahan, luas, dan kontur diukur, lalu dicocokkan dengan sertifikat.
- Kondisi tanah. Daya dukung dan jenis tanah diperiksa untuk menentukan fondasi dan lantai.
- Infrastruktur. Ketersediaan listrik, air, dan jalur transportasi untuk kendaraan berat.
- Lingkungan. Risiko banjir, rob, longsor, serta jarak dari permukiman.
Dokumen yang perlu disiapkan pemilik lahan
- Sertifikat atau bukti kepemilikan lahan.
- Peta lokasi atau titik koordinat.
- Gambaran kebutuhan: jenis produksi atau barang, perkiraan luas bangunan, dan rencana perluasan.
- Informasi peruntukan lahan (tata ruang) bila sudah ada.
Tips sebelum dan saat survei
Sebelum survei: tentukan tujuan survei, siapkan daftar pertanyaan, dan pastikan pihak yang mendampingi tahu batas lahan.
Saat survei: dokumentasikan temuan dengan foto dan catatan, perhatikan akses kendaraan berat, dan cocokkan batas lahan dengan sertifikat.
8 masalah yang sering ditemukan saat survei
- Drainase buruk. Air tidak punya jalur buang dan menggenang di lahan.
- Topografi tidak rata. Lahan miring atau berundak menambah biaya urukan, galian, atau dinding penahan tanah.
- Tidak ada sumber air yang cukup untuk kebutuhan produksi dan karyawan.
- Daya listrik terbatas. Perlu penambahan daya atau gardu sebelum pabrik beroperasi.
- Akses kendaraan kurang memadai. Jalan sempit, menanjak, atau tidak kuat dilalui truk berat.
- Masalah kepemilikan lahan. Batas tidak jelas, sertifikat berbeda dengan kondisi lapangan, atau sengketa.
- Masalah perizinan. Peruntukan lahan tidak sesuai untuk bangunan industri atau gudang.
- Tanah tercemar atau bekas urukan yang perlu ditangani sebelum dibangun.
Semua masalah ini lebih murah diselesaikan di atas kertas daripada setelah fondasi dicor.